Skip to main content

follow us

Ketahui Cara Pemberian Antibiotik Yang Tepat Untuk Anak Supaya Tidak Berbahaya


Ketahui Cara Pemberian Obat Antibiotik Yang Tepat Untuk Anak karena akan sangat berbahaya jika penggunaannya tidak tepat supaya tidak terkena dampak efek samping penggunaan antibiotik pada anak. Berikut ini kami bahas tentang jangan sembarangan mengkonsumsi anti biotik, seperti apa penggunaan antibiotik dengan benar dan tepat, serta bahaya / dampak penggunaan antibiotik yang tidak benar / tepat.

Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dalam konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik adalah obat yang digunakan dalam penanganan pasien yang terbukti atau diduga mengalami infeksi bakteri dan terkadang juga digunakan untuk mencegah infeksi bakteri pada keadaan khusus. Penggunaan antibiotik tidak boleh sembarangan dan hanya bisa didapatkan dengan resep dokter, karena penggunaan yang tidak sesuai indikasi justru akan menyebabkan resistensi.

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik


Beragamnya penyakit infeksi pada anak telah membuat kebanyakan orang tua khawatir dan panik ketika buah hatinya sakit. Bahkan tidak sedikit yang selalu membawa anaknya berobat ke dokter meski hanya penyakit ringan. Rasanya tidak puas jika dokter tidak memberi obat apapun dan hanya memberikan edukasi tentang penyakit dan perawatan anaknya yang sedang sakit. Tidak peduli apakah penyebabnya virus atau bakteri, kebanyakan orang tua akan lebih tenang ketika dokter meresepkan antibiotik untuk anaknya. Padahal, penggunaan antibiotik yang tidak tepat bukan hanya menghamburkan uang, namun juga akan berdampak buruk pada kesehatan buah hati kita.

Seperti Apa Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat?


Pemakaian antibiotik yang tidak berdasarkan ketentuan (petunjuk dokter) menyebabkan tidak efektifnya obat tersebut sehingga kemampuan untuk membunuh kuman berkurang atau bahkan menimbulkan resistensi.

Pemberian antibiotik yang tidak tepat


  1. Pemberian antibiotik pada keadaan tanpa adanya infeksi bakteri
  2. Pemilihan antibiotik yang salah atau tidak sesuai diagnosis.
  3. Dosis yang tidak tepat atau berlebihan.
  4. Lama penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
  5. Penggunaan obat antibiotik suntik yang berlebihan pada penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat yang ditelan (oral).
  6. Pengobatan sendiri oleh pasien dengan cara membeli dan mengomsumsi dengan cara membeli dan mengonsumsi antibiotik yang seharusnya diresepkan oleh dokter
  7. Penggunaan antibiotik berlebih untuk profilaksasi (pencegahan) pada pembedahan bersih, khususnya pemberian antibiotik yang berlangsung lebih lama dari waktu yang direkomendasikan (kurang dari 24 jam pasca operasi)

Bahaya Pemberian Antibiotik yang Tidak Tepat


Penggunaan antibiotik pada anak memerlukan perhatian khusus. Mengapa demikian? Bayi dan anak beresiko paling sering mendapatkan antibiotik, karena daya tahantubuhnya yang lebih rentan sehingga lebih sering sakit. Padahal, seperti halnya obat pada umumnya, antibiotik memiliki efek samping, yang bisa muncul jika penggunaannya tidak tepat.

Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan antibiotik adalah gangguan beberapa organ tubuh. Terlebih lagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem tubuh dan fungsi organ pada bayi dan anak-anak masih belum tumbuh sempurna. Gangguan organ tubuh yang bisa terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah dan sebagainya.

Pemakaian antibiotik berlebihan dan irasional juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau jamur atau disebut "superinfection". Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten atau disebut "superbugs".

Penggunaan antibiotik yang irasional menyebabkan bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah menggunakan jenis antibiotik ringan akan bermutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis antibiotik yang lebih kuat. Bila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar, suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis antibiotik yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini.

Akibat lainnya adalah reaksi alergi karena obat. Gangguan tersebut mulai dari ringan, seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksi.

Makin Dini, Makin Beresiko


Sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak disebabkan oleh virus. Penyakit virus adalah penyakit yang termasuk “self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5 sampai 7 hari. Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas disebabkan oleh virus.

Secara umum, setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali penyakit dalam nafas karena virus.
Penelitian menyimpukan bahwa penggunaan antibiotik yang terlalu dini pada anak (usia kurang dari 1 tahun) terutama antibiotik yang berspektrum luas, meningkatkan resiko terjadinya asma pada anak. Sehingga dianjurkan untuk tidak memberio antibiotik terutama yang bersprktrum luas kepada anak usia kurang dari 1 tahun apabila tidak sangat diperlukan

Kapan Anak Memerlukan Antibiotik?


Indikasi yang tepat dan benar dalam penggunaan antibiotik pada anak adalah bila penyebab infeksi terseut adalah bakteri. Menurut CDCP (Centers for Disease Control and Prevention), indikasi pemberian antibiotik adalah :

  1. Batuk dan pilek yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari) yang berkelanjutan selama lebih dari 10-14 hari dan disertai dengan cairan hidung mukopurulen (kuning atau hijau). Bila batuki dan pilek yang berkelanjutan terjadi hanya pada malam hari dan pagi hari (bukan sepanjang hari) biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi, sehingga tidak perlu antibiotik;
  2. Bila terdapat gejala infeksi sibubtis akut yang berat seperti panas > 39ÂșC dengan cairan hidung purulen (kental), nyeri, bengkak di sekitar mata dan wajah;
  3. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur (pembiakan bakteri) yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi;
  4. Infeksi saluran kemih. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur urin. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri berikut jenis dan sensitivitasnya terhadap antibiotik;
  5. Penyakit tifus. Selain dari anamnesis (wawancara) dan pemeriksaan fisik, untuk mengetahui penyakit tifus perlu dilakukan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah gaal.

Gunakan Antibiotik Secara Tepat


Berikut ini beberapa tips penggunaan antibiotik yang benar, sebagai pedeoman para orang tua dalam memberikan antibiotik pada anaknya :

  1. Memberikan antibiotik pada anak hanya dengan resep dokter, yaitu dengan dosis dan jangka waktu sesuai resep;
  2. Menanyakan pada dokter, obnat mana yang mengandung antibiotik (karena harus dihabiskan sesuai aturan pakai dari dokter);
  3. Tidak menggunakan atau membeli antibiotik berdasarkan resep sebelumnya. Karena salah menggunakan antibiotik menyebabkan obat menjadi tidak efektif lagi dan bahkan bisa menimbulkan resisten (kebal) obat.

Itulah artikel tentang jangan sembarangan mengkonsumsi anti biotik, seperti apa penggunaan antibiotik dengan benar dan tepat, serta bahaya / dampak penggunaan antibiotik yang tidak benar / tepat menurut para ahli. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kesehatan anak-anak kita. Amin...
Disclaimer: Postingan blog ini tentang dunia kesehatan, blogger, dan teknologi. Jika kurang berkenan, mohon kiranya untuk memberikan kritik dan saran via kolom komentar, atau via contact menu.

Artikel Terkait:

Buka Komentar