Memelihara Musang Albino Harus Siap Digigit

Memelihara Musang Albino Harus Siap Digigit

Memelihara Musang Albino Harus Siap Digigit


Memelihara Musang Albino Harus Siap Digigit. Memelihara Musang Albino Harus Siap Digigit. Musang adalah nama umum bagi sekelompok mamalia pemangsa (bangsa karnivora). Hewan ini kebanyakan merupakan hewan malam dan pemanjat yang baik. Secara umum sisi atas tubuh abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus, atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar di sebelah tubuhnya.

Wajah, kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala. Posisi kelamin musang betina dekat dengan anus dan memiliki tiga pasang puting susu, sedangkan posisi kelamin musang jantan dekat dengan pusar.

Terdapat beberapa jenis musang, diantaranya :

  1. Musang air, di Semenanjung Thai-Malaya, Sumatera, dan Kalimantan
  2. Musang rase, di Sumatra, Jawa dan Bali
  3. Musang tenggalung, di Semenanjung Malaya dan Kalimantan
  4. Musang luwak
  5. Musang akar
  6. Musang galing
  7. Binturung
  8. Linsang

Diantara berbagai jenis musang, yang paling terkenal adalah musang luwak. Salah satu jenis mamalia liar yang kerap ditemui di sekitar pemukiman dan bahkan perkotaan. Hewan ini amat pandai memanjat dan bersifat arboreal, lebih kerap berkeliaran di atas pepohonan, meskipun tidak segan pula untuk turun ke tanah. Musang juga bersifat nokturnal, aktif di malam hari untuk mencari makanan dan aktivitas lainnya.
Di alam liar, musang kerap dijumpai di atas pohon aren atau pohon kawung, rumpun bambu, dan pohon kelapa, jika di perkotaan biasanya musang bersarang di atap rumah warga, karena habitat alaminya sudah terganti oleh rumah-rumah manusia.

Dalam gelap malam tidak jarang musang luwak terlihat berjalan di atas atap rumah, meniti kabel listrik untuk berpindah dari satu bangunan ke lain bangunan, atau bahkan juga turun ke tanah di dekat dapur rumah. Musang luwak juga menyukai hutan-hutan sekunder.

Musang ini kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walaupun tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepaya, pisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii). Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.

Di tempat-tempat yang biasa dilaluinya, di atas batu atau tanah yang keras, seringkali didapati tumpukan kotoran musang dengan aneka biji-bijian yang tidak tercerna di dalamnya. Agaknya pencernaan musang ini begitu singkat dan sederhana, sehingga biji-biji itu keluar lagi dengan utuh. Karena itu pulalah, konon musang luwak memilih buah yang betul-betul masak untuk menjadi santapannya. Maka terkenal istilah kopi luwak dari Jawa, yang menurut cerita dari mulut ke mulut diperoleh dari biji kopi hasil pilihan musang luwak, dan telah mengalami ‘proses’ melalui pencernaannya!

Akan tetapi sesungguhnya ada implikasi ekologis yang penting dari kebiasaan musang tersebut. Jenis-jenis musang lalu dikenal sebagai pemencar biji yang baik dan sangat penting peranannya dalam ekosistem hutan.

Pada siang hari musang luwak tidur di lubang-lubang kayu, atau jika di perkotaan, di ruang-ruang gelap di bawah atap. Hewan ini melahirkan 2-4 anak, yang diasuh induk betina hingga mampu mencari makanan sendiri.

Sebagaimana aneka kerabatnya, musang luwak jantan mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, namun dapat pula menjadi pekat dan memualkan. Kemungkinan bau ini digunakan untuk menandai batas-batas teritorinya, dan pada pihak lain untuk mengetahui kehadiran hewan sejenisnya di wilayah jelajahnya.

Di beberapa pasar hewan, musang seringkali diperjualbelikan, harga seekor musang sekitar Rp 150-500 ribu. Bahkan untuk jenis musang albino bisa mencapai Rp 15 juta.

Jika anda tidak sanggup dengan salah satu dari resiko memelihara musang berikut, akan lebih baik jika anda tidak memeliharanya. Apa saja yang harus diketahui sebelum memelihara musang?

  1. Memelihara musang berarti siap digigit.
    Pada dasarnya, musang adalah jenis hewan buas. Dia memiliki taring tajam yang tidak segan dia gunakan untuk mengoyak kulit anda. Maka sejinak apapun musang, akan ada saatnya dimana ia akan menjadi buas dan tidak segan untuk mengigit dan melukai anda.

  2. Siap membersihkan kandangnya dan memandikannya secara rutin.
    Musang bukan hewan yang bisa diliarkan begitu saja. Dia membutuhkan kandang yang lumayan besar untuk tempat tinggalnya. Seperti halnya dalam memelihara hewan lain, membersihkan kandang musang minimal 2 hari sekali erat kaitannya dengan kesehatan musang. Tak jarang, kondisi kandang yang kotor akan membuat bulu musang rontok serta iritasi di kulitnya akibat bakteri dan kutu karena kebersihan kandang kurang terjaga.

  3. Siap dengan aroma yang ditimbulkan dari kandang dan badan si musang.
    Hampir semua jenis musang memiliki kelenjar bau yang unik di tubuhnya. Musang pandan misalnya. Dia memiliki kelenjar bau yang mirip dengan aroma pandan. Lain lagi dengan musang biul (javan ferret badger), baunya agak mirip seperti aroma ban terbakar. Begitu juga dengan jenis musang lain, ia memiliki aroma yang berbeda-beda. Memelihara musang berarti siap dengan aroma yang ditinggalkan si musang dimana-mana, baik di dalam maupun di ruangan, baik di udara ataupun di benda-benda tempat ia menggesek-gesekkan badannya. Dan patut saya tekankan, intensitas aroma musang meningkat saat ia memasuki masa kawin, terutama bagi musang jantan.