Skip to main content

follow us

Jatuh Cinta Boleh Saja Asal Tahu Aturan


Jatuh cinta? Boleh-boleh saja kok! yang namanya cinta sudah pasti ada disetiap manusia (jika tidak, berarti bukan manusia dong).

Cuma perhatikan beberapa aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, supaya muara cinta tetap kembali kepada-Nya.

Tutup aurat dengan rapat


Menutup aurat adalah tuntunan syariat. Kewajiban agama yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Allah SWT. Berfirman “wahai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaknya mereka menutupkan jilbab keseluruh tubuhnya” (Al-Ahzab : 59). Di ayat lain, Allah berfirman “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman... hendaklah menutupkan kain kerudung kedadanya” (An-Nur: 31)

Begitu juga Rasulullah SAW bersabda “Wahai Asma, bila seorang perempuan islam sudah sampai kemasa balighnya sesungguhnya tak boleh ada yang tampak darinya kecuali muka dan telapak tangan". Maka, sudahkah kita merasa sebagai bagian dari para mukminah yang disebut oleh Allah dalam ayat di atas.

Maka, silahkan saja bereksplorasi dengan sarana penutup aurat anda. Jilbablah? Hijab? Abaya? Jubah? Kerudung? Pashmina? Bergo? Apapun rupanya, jenis dan sebutannya, kreasikan hingga tak tembus pandang, tak lekat membentuk tubuh, dan mampu menutup aurat dengan sempurna. Jangan tunda lagi, sebab menutup aurat bukan sekedar upaya ‘mengurung’ diri dari pandangan laki-laki, namun juga menjaga hati demi kebersihan cinta dan mambantu upaya meredam syahwat.

Dari mata turun ke hati


Berjumpa kawan atau rekan kerja setiap hari bisa terhitung berpuluh kali. Membahas bahan kuliah, rapat kerja atau sekedar kegiatan rutin organisasi.

Wahai pemuda yang beriman, wahai pemudi yang beriman, ingatlah Allah memberi panduan. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman; hendaklah mereka menjaga pandangannya...”(An-Nur: 30-31)

Pandangan mata bukan sekedar tatapan biasa yang tanpa makna. Sebab, tatapan lembut yang terekspoitasi berulang kali, bisa memunculkan hukum alami: dari mata turun “rasa” ke hati. Tentu tak perlu menekur kepala saat berkata-kata, apalagi memalingkan wajah dari lawan bicara. Salah-salah kita bisa dituding tak menghargai mereka.

Tebarkan pandangan lurus ke muka, namun tak usah menatap begitu lekat sebagaimana banyak disebut dalam novel-novel remaja; kedua mata mereka bertatapan, hingga cukup untuk menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di dada. (Masya Allah!)

Setelah suka, lalu apa?


Awalnya biasa saja, tapi bertahun-tahun kebersamaan sangat mungkin membuat hubungan kita dengan seseorang menjadi cukup dekat. Mungkin inilah awalnya benih cinta anda tersemai. Tenang, jangan panik kalau anda tak lagi sekedar nyaman bergaul dengan si A, tetapi sudah mulai jatuh cinta! Kalau anda siap, menikahlah! Sebab tak ada yang lebih baik dari dua orang yang saling mencintai kecuali menikah, demikian nasehat Rasulullah SAW.
"Hei, tak semudah itu menikah! Banyak pertimbangan, butuh persiapan, dan yang paling penting, belum tentu dia mau menikah dengan saya!"

Baiklah, kalau itu pertanyaan anda, simpanlah rasa suka itu jauh-jauh di dalam hati. Tahanlah diri dengan memperbanyak puasa, hingga gairah cinta anda tenang.

Sementara itu, jauhi dari jebakan pintu-pintu syetan yang banyak dibuka atas nama cinta dan di bungkus dalam banyak dalih. Misalnya saja kesempatan berkhalwat, berdua-duaan.

Bila menyimpan rasa suka rapat dihati dan memperbanyak puasa tak memberi solusi, karena rasa cinta semakin mendesak, kembalilah pada solusi yang pertama, segeralah menikah. Karena bila anda miskin, maka Allah-lah yang akan mencukupkan. Itu janji Allah dalam surat An-Nur ayat 32.

“Maka, nikahkanlah orang yang masih membujang diantara kamu dan orang yang layak (menikah) dari hamba-hambamu yang laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberiannya lagi Maha Mengetahui”

Karena sebab apa aku jatuh cinta?


Semakin luas kita bergaul, semakin banyak teman diraih. Diantara mereka mungkin saja begitu mempesona. Yang satu begitu tampan dan yang lain amatlah cerdas. Ada seseorang yang berperilaku santun. Nampak pula yang pribadinya mempesona.

Belum lagi yang seorang mapan kehidupannya. Sementara yang lain merupakan kebanggaan dalam lingkungannya. Kalau rasa suka yang telah hadir sangat mungkin menjadi benih cinta, sebelum dia tersemai jauh, mana sebaiknya yang dipilih?

Rasulullah SAW bersabda “ada  empat sebab dinikahinya seorang laki-laki/perempuan. Karena sebab hartanya, kedudukannya, kecantikan / ketampanannya, dan sebab agamanya. Utamakanlah alasan agamanya agar engkau memperoleh berkah (HR. MUSLIM)

Namun, bila dari sekian banyak pribadi mempesona semua sama baiknya, maka pilihlah yang terbaik akhlaknya, sebab manakala dia dalam keadaan suka atau gembira, dia akan melimpahi cinta dan kesenangan, dan manakala dia marah, dia tidak akan bertindak dholim dan semena-mena.

Referensi : majalah ummi
Disclaimer: Postingan blog ini tentang dunia kesehatan, blogger, dan teknologi. Jika kurang berkenan, mohon kiranya untuk memberikan kritik dan saran via kolom komentar, atau via contact menu.

Artikel Terkait:

Buka Komentar