Manfaat Bekam Dalam Pandangan Islam dan Medis

Manfaat Bekam Dalam Pandangan Islam dan Medis

Manfaat Bekam Dalam Pandangan Islam dan Medis


Manfaat Bekam Dalam Pandangan Islam dan Medis. Saat ini banyak menawarkan metode untuk menjaga kesehatan. Salah satunya terapi bekam (hijamah/fashdu/cantuk). Bekam adalah salah satu cara yang tidak hanya dapat menyembuhkan penyakit, tapi bisa juga dijadikan terapi untuk menjaga kesehatan tubuh dari berbagai penyakit. Salah satunya bekam bisa untuk mengobati asam urat, ibu hamil, jerawat, darah tinggi, diabetes, dan masih banyak lagi.

Bekam adalah teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Kata al-Hijamah berasaldari istilah Arab yang mempunyai arti pelepasan darah kotor. Bekam secara global ada dua macam. Pertama, bekam kering atau bekam angin (hijamah jaffah/dry cupping), yaitu proses bekam dengan menghisap permukaan kulit dan memijat area sekitarnya tanpa mengeluarkan darah kotor, kedua, bekam basah (hijamah rathbah/wet cupping), yaitu proses bekam dengan mengeluarkan darah kotor. Pertama kita melakukan prosedur bekam kering, kemudian kita melukai permukaan kulit dengan jarum tajam, pisau bedah atau lainnya, lalu di sekitarnya dihisap dengan alat penghisap (cupping set dan hand pump) untuk mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh.

Diriwatkan bahwa Jabir bin Abdulah RA pernah menjenguk Al-Muqni RA, dia bercerita: Aku tidak sembuh dari sakitku sehingga akhirnya aku berbekam, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulallah SAW bersabda, “Sesungguhnya di dalamnya terkandung kesembuhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Ya’la, Al-Hakim, Al-Baihaqi).

Rasulallah SAW bersabda, “Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan pengobatan dengan besi panas (kay). Sesungguhnya aku melarang umatku (berobat) dengan kay.” (HR. Al-Bukhari).

Rasulallah SAW jugapernah bersabda, “Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (vnesection/sejenis bekam).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di kesempatan lain Rasulallah SAW juga bersabda, “Pada malam aku diisyara’kan, aku tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata: Wahai Muhammad, suruhlah umatmu melakukan bekam.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Waktu Bekam
Mencegah lebih baik daripada mengobati, kita semua tentunya setuju dengan hal tersebut. Rutin melakukan terapi bekam satu bulan sekali juga termasuk salah satu upaya menjaga kesehatan. Rutinitas bekam yang baik sebagaimana dicontohkan Rasulallah SAW adalah setiap tanggal 17, 19, 21 tiap bulan Qamariyah. Karena ketika itu darah kotor berhimpun dan lebih mudah terangsang karena sedang pada puncak gejolak.

Diriwatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasullah SAW bersabda, “Sebaik-baik bekam yang kalian lakukan adalah pada tanggal tujuh belas, Sembilan belas, dan dua puluh satu.” (HR. At-Tirmidzi).

Sahabat Anas bin Malik RA menceritakan bahwa Rasulallah SAW biasa melakukan hijamah pada bagian pelipis dan pundaknya. Beliau melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau keduapuluhsatu. (HR. Ahmad).

Pemilihan waktu bekam di atas adalah sebagian tindakan preventif untuk menjaga kesehatan. Sedangkan untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan. Dalam hal ini Imam Ahmad melakukan bekam pada hari apa saja ketika membutuhkan.

Diriwayatkan bahwa Rasulallah SAW berbekam setelah memakan daging kambing beracun. Diriwayatkan pula bahwa beliau berbekam di punggung telapak kakinya, setelah beliau terjatuh dari atas kuda.

Ibnu Qayyim berkata, “Pengarang al-Qanun (Ibnu Sina) menegaskan: diperintahkan penggunaan bekam bukan pada awal bulan (Qamariyah), karena ketika itu cairan-cairan dalam tubuh kurang aktif bergerak dan tidak normal. Bukan pula akhir bulan, akrena cairan-cairan itu berkurang. Yang baik ialah pada pertengahan bulan, ketika cairan-cairan didalam tubuh bergolak dan mencapai puncak penambahannya, karena bertambahnya cahaya dari rembulan.

Ima as-Suyuti, megutip pendapat Ibnu Umar RA, menambahkan bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah yang paling baik karena dalam hal ituterdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya.

Pandangan Medis
Hasil dari 300 penetian yang dilakukan di Turki, Syiria, Jerman yang dilakukan oleh dokter Muslim ternyata bekam mempunyai efektivitas tinggi terhadap penyembuhan penyakit.di antaranya tekanan darah kembali normal pada kasus darah tinggi, perbaikan irama jantung pada alat rekam jantung, penurunan kadar gula darah pada kasus kencing manis, peningkatan sel darah putih pada kasus infeksi paru-paru, dan terjadi penurunan asam urat. Juga toksin yang ada dalam darah dikeluarkan dengan sangat baik ketika berbekam, sehingga yang didapatkan setelah itu adalah darah yang bersih. Juga terjadi penurunan enzim liver pada kasus penyakit liver.

Hasil Resit Muhammad Amin Syaikhu, ilmuwan Damaskus, menunjukkan bahwa darah bekam mengandung 1/10 kadar lekosit yang ada pada darah biasa. Hal ini cukupu mengejutkan para ilmuwan, bagaimana darah bisa keluar tanpa disertai lekosit yang banyak? Artinya, terapi bekam ternyata tetap melindungi dan menguatkan unsure kekebalan tubuh. Bekam juga membuang sel darah merah yang tidak aktif lagi. Selain itu, kapasitas ikatan besi yang ada di dalam darah bekam sangat tinggi (550-1100), sehingga besi yang digunakan untuk pembentukan darah tetap ada dan semakin banyak.

Dan masih banyak lagi hasil riset para ilmuwan yang menunjukkan khasiat bekam. Dari berbagai pemaparan di atas ternyata bekam, selain dianjurkan oleh Rasulallah SAW, juga termasuk terapi kesehatan yang baik dalam pandangan medis. Dan dari ini juga kita tahu bahwa apa yang disabdakan Nabi SAW adlah benar dan dapat dibuktikan secara ilmiah.

Semoga artikel Manfaat Bekam Dalam Pandangan Islam dan Medis ini bermanfaat.